Kamis, 05 Maret 2009
BUAT MAHASISWAKU YANG DI USB
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita mandi sekurang-kurangnya dua kali sehari. Dengan begitu kita berharap bisa terbebas dari segala bentuk bau dan kotor yang melekat didalam tubuh kita. Namun, kita tahu bahwa tubuh ini bukan semata-mata sebuah wujud kasar. Sebab, jika hanya wujud kasar saja; maka kita ini adalah jenazah. Didalam tubuh ini ada jiwa. Dan seperti jasad kita, jiwa kitapun membutuhkan kebersihan. Untuk jasad, kita mandi menggunakan lulur. Lantas memoleskan kosmetik dan wewangian. Untuk membersihkan jiwa kita, apa yang kita lakukan?
Ditempat tinggal saya yang lama beberapa tahun lalu, tukang sampah hanya datang dua kali dalam seminggu. Sehingga, kalau tempat sampah sudah terlanjur penuh, warga harus mengambil inisiatif sendiri untuk membersihkannya. Tak jarang sampah rumah tangga itu sudah menebarkan bau busuk. Tak heran jika ketika sampah itu dibongkar; belatung berlompatan kesana kemari.
Hey, apakah tadi saya bilang ada belatung? Benar. Belatung. Mengapa Tuhan menciptakan belatung dimuka bumi ini? Guru biology dan pakar kompos menjelaskan bahwa belatung berfungsi untuk menghancurkan sampah menjadi tanah gembur. Bisakah anda membayangkan jika didunia ini tidak ada belatung? Bumi pasti akan dipenuhi oleh sampah yang kita buat setiap hari. Kotoran ada dimana-mana. Bangkai berserakan. Dan tak mungkin lagi ada ruang yang masih tersisa untuk kita tinggali.
Diri kita juga seperti bumi yang kadang dipenuhi oleh sampah tak berarti. Pikiran kita kadang diwarnai oleh prasangka-prasangka negatif. Prasangka kepada atasan kita. Prasangka kepada kolega kita. Prasangka kepada pasangan kita. Dan prasangka kepada siapapun yang ada disekitar kita. Hati, kita dinodai oleh iri dan dengki kepada orang-orang yang lebih maju dari kita. Lidah kita belepotan dengan jejak-jejak perkataan penuh cela, dan makian serta hujatan kepada sesama. Pendek kata, sekujur tubuh kita; dipenuhi oleh sampah yang membuat diri menjadi kotor.
Bisakah anda membayangkan seandainya didalam diri kita tidak ada apapun yang berperan seperti belatung? Padahal, kita hidup selama puluhan tahun dengan sampah yang terus menerus bertambah. Jika tak ada yang membersihkan diri kita dari semua itu, maka sudah pasti kotoran itu akan melekat kuat didalam tubuh kita. Menempel seperti kerak arang hitamnya pantat penggorengan.
Melalui belatung itu, Tuhan menunjukkan kepada kita betapa pentingnya membersihkan diri. Sebab, sesungguhnya kita tidak hanya membuat sampah secara fisik, namun juga non fisik. Untuk sampah fisik, biarkan belatung yang dikirim Tuhan membersihkannya. Untuk sampah non fisik? Adakah Tuhan mengirimkan sejenis belatung khusus?
Didalam diri kita, ada dua jenis sampah. Pertama, sampah yang terbentuk karena kesalahan dan kekhilafan kita. Dan kedua, sampah berupa masuknya pengaruh negatif dari luar.
Sikap mawas diri adalah fungsi belatung yang ampuh untuk membersihkan diri dari kesalahan yang pernah kita buat. Orang-orang yang mawas diri tidak membela diri. Jika mereka salah, mereka dengan besar hati mengakui kesalahan itu; dan kemudian berusaha keras untuk tidak mengulanginya lagi. Mereka akan dengan tulus mengulurkan tangan untuk meminta maaf, dan mengatakan; ’Saya memang salah. Tidak akan saya ulangi kesalahan itu. Mohon dimaafkan’. Kebanyakan manusia bertindak sebaliknya. Itulah sebabnya, mengapa pengadilan pidana selalu berlarut-larut untuk sekedar mendapatkan pengakuan dari terdakwa. Karena tidak memiliki sikap belatung itu, mereka berdebat dan saling membela diri; sehingga kebenaran lari terbirit-birit. Kata belatung;’akui saja kesalahan itu, dan bersihkan dirimu dengan permintaan maaf.’
Bagaimana dengan sampah-sampah berupa pengaruh-pengaruh negatif yang masuk dari luar? Sampah jenis ini bisa berbentuk sikap dan tindakan orang lain yang tidak menyenangkan, misalnya. Hal itu bisa menimbulkan kebencian dan dendam didalam hati kita. Lalu, balas memaki dan membenci, sehingga jiwa kita yang bersih menjadi ternoda. Namun, orang yang memiliki belatung memilih untuk memaafkan para pemaki itu, dan membalas keburukan dengan kebersihan hati, serta kelapangan dada. Sehingga, tak ada balas dendam dalam kamus hidup mereka. Dan jika hubungan itu tidak dapat diselamatkan; mereka memilih menjauh daripada harus menceburkan diri kedalam kubangan.
Sampah dari luar juga bisa berupa tantangan hidup yang datang silih berganti. Kita tahu bahwa roda kehidupan terus berputar. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Saat diatas, kita sering lupa betapa bernilainya kenikmatan itu. Saat dibawah, sering kita mengeluh seolah hidup tak pernah indah. Para belatung dalam diri kita membantu membersihkan sikap negatif sehingga dalam keadaan sulit pun kita selalu bisa bersikap positif. Mengapa kita bersikap positif? Sebab semua sikap negatif kita sudah dibersihkan oleh para belatung itu. Oleh karena itu, kita tidak bisa berbuat lain selain perbuatan-perbuatan positif saja. Bukankah itu yang bisa meningkatkan nilai kemanusiaan kita?
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio
Catatan Kaki:
Orang-orang berhati bersih itu ajaib. Sehingga, tak ada satu hal pun yang bisa meruntuhkannya.
Rabu, 04 Maret 2009
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Salah satu frase paling populer dilingkungan kita berbunyi;”belajar sepanjang hayat.” Jika kita terlalu berfokus kepada pelajaran formal, tentu frase itu tidak akan relevan. Namun, jika kita meyakini bahwa proses belajar itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, maka kita tidak akan pernah kehilangan momentum untuk bisa belajar dan meningkatkan diri. Tetapi, apakah proses belajar itu bisa dilakukan dalam ’situasi apapun’? Kelihatannya memang demikian. Dalam situasi sulit sekalipun? Betul. Sesulit apapun? Nampaknya begitu.
Saya teringat dengan sepeda pertama yang saya miliki dimasa kecil. Ketika mendapatkan sepeda itu, saya belum benar-benar bisa bersepeda. Sehingga ketika sepeda itu tiba dirumah, pada awalnya saya hanya bisa menatapnya saja. Rasa senang dan takut bercampur aduk. Lalu, berkembanglah itu menjadi antsusiasme dan kenekatan. Antusias karena senang, nekat karena sebenarnya belum bisa bersepeda. Walhasil, hal paling mudah dikenang dari masa-masa awal belajar bersepeda itu adalah ketika sepeda saya tidak bisa dikendalikan hingga menabrak box penjual rokok dipinggir jalan. Lecet disikut kiri kanan, ditambah omelan dari sang pedagang tidak bisa menghentikan kenekatan itu. Diulangi lagi. Dan ndilalah, lha kok setelah nabrak itu saya menjadi lancar bersepeda.
Saya yakin, anda memiliki pengalaman serupa itu ketika belajar bersepeda. Dan sekarang, kita semua sudah sangat mahir melakukannya. Cobalah anda bayangkan; apa jadinya kita seandainya dulu, kita langsung berhenti setelah terjatuh? Tentu kita tidak akan pernah mahir naik sepeda. Mengapa? Karena setelah kejatuhan yang menyakitkan itu, kita tidak mau mencoba memulainya kembali.
Menurut pendapat anda, apakah hidup juga demikian? Kelihatannya iya, ya. Dalam hidup pun, kadang kita terjatuh. Kita merasa sakit fisik. Sakit perasaan. Luka di badan. Dan luka kehormatan. Dan, seperti bersepeda tadi; seandainya kita berhenti setelah mengalami jatuh dan luka-luka itu, mungkin kita tidak akan terampil lagi dalam mengarungi hidup.
Dalam dunia nyata, kita menyaksikan betapa banyak orang yang benar-benar terhenti oleh kegagalan hidup. Oleh jatuhnya bisnis mereka. Oleh berakhirnya kontrak kerja mereka. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, mereka terus terkurung oleh perasaan marah dan kecewa. Lantas menumpahkan kemarahan itu kepada tindakan-tindakan yang kurang produktif, sehingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan makna hidup. Padahal, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi diri yang begitu tinggi.
Dalam dunia nyata, kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang begitu gigih dan tidak membiarkan dirinya dihentikan oleh cobaan hidup yang berkali-kali menimpanya. Ketika bisnisnya jatuh, mereka bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Itulah sebabnya mereka tidak menyebut bisnisnya ’jatuh’, melainkan ’jatuh-bangun’. Artinya, ketika terjatuh pun, mereka masih berusaha bangun lagi. Ketika perusahaan tempat mereka bekerja berkata;’we are sorry to tell you that we cannot keep you stay with us…..’ tentu mereka kecewa. Tetapi, mereka tidak berhenti pada ’kecewa’, karena segera setelah itu mereka meneruskan hidup dengan melakukan apa saja untuk memastikan roda kehidupannya terus berputar. Sehingga, meskipun mereka telah kehilangan pekerjaan itu; mereka menemukannya kembali. Bagaimana jika dengan semua usaha yang dilakukannya, mereka tidak berhasil menemukannya kembali? Mereka belajar sesuatu dari ketidakberhasilannya. Lalu mereka membuat pekerjaannya sendiri. Sehingga selalu ada pekerjaan yang bisa menjaga diri mereka tetap produktif.
Bagaimana mereka bisa setangguh itu? Sederhana; mereka percaya bahwa bahwa hidup selalu menyembunyikan pelajaran berharga. Dari perjalanan hidup mereka menemukan pelajaran untuk melanjutkan hidup. Dan, ketika secara konsisten mereka melakukan itu, mereka mendapati roda kehidupan terus berjalan. Dan semakin hari, mereka semakin terampil menjalaninya.
Senin, 02 Maret 2009
Rabu, 18 Februari 2009
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita perlu secara jujur mengakui kalau kita sering terjebak dalam anggapan bahwa; proses belajar itu sudah menjadi masa lalu. ”Aduh, aku sudah tidak muda lagi untuk belajar,” begitu sering kita bilang. Atau, ”Pekerjaanku lagi numpuk nih; gak sempat lagi untuk belajar.” Dan masih banyak hal serupa itu merasuki alam bawah sadar kita. Sehingga berhentilah kita dari proses belajar itu. Tetapi, benarkah wajib belajar itu hanya berlaku untuk anak-anak sekolahan? Dan benarkah orang-orang dewasa seperti kita tidak perlu lagi untuk menjalani semua itu?
Saya dibesarkan didaerah pertanian. Setiap hari, saya pergi ke kebun untuk membantu Ayah menanam beragam macam sayuran. Dan setiap hari pula saya menyaksikan tanaman itu tumbuh mulai dari sebutir biji kecil, kemudian menggeliat dari dalamnya tunas berupa daun mungil yang lucu. Keesokan harinya daun lembut itu semakin membesar, lalu keluarlah batang. Setelah itu, dia kembali berkembang sehingga lengkaplah dia menjadi sebatang pohon yang kokoh, lagi rindang.
Pernahkah anda merenungkan, mengapa tanaman disebut sebagai ’tumbuhan’? Ternyata, tanaman itu mempunyai karakter unik yang kemungkinan tidak dimiliki oleh mahluk lain. Anda tentu tahu bahwa tanaman memiliki kemauan untuk terus tumbuh. Cobalah perhatikan, bahkan pada batang pohon yang sudah tua pun, selalu saja muncul paling tidak satu tunas kecil. Malah tak jarang tunas-tunas itu bermunculan pada sisa-sisa pohon yang sudah ditebang, bukan? Itu merupakan salah satu bukti bahwa tanaman memiliki karakter kuat untuk terus bertumbuh. Dan itulah pula sebabnya, mengapa dia disebut sebagai ’tumbuhan’.
Pertanda apakah gerangan ini bagi kita? Ini adalah pertanda bahwa kita pun mesti memiliki karakter seperti itu. Kita mesti memiliki keinginan untuk terus bertumbuh. Tentu tidak dengan cara menumbuhkan organ-organ tubuh kita terus menerus, melainkan untuk memperkuat dan memperindah karakter hidup kita. Menambah ilmu pengetahuan kita. Dan meningkatkan kemampuan-kemampuan teknis kita. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang bijak tidak pernah berhenti untuk meningkatkan diri. Karena, mereka memahami bahwa; belajar itu dimulai dari rahim Ibunda, hingga kita singgah dipemakaman kelak.
Banyak orang yang berhenti belajar, terutama ketika mereka merasa sudah berhasil meraih posisi yang diinginkannya. Contohnya, ketika seseorang dipromosi untuk menduduki jabatan tinggi, dia mengira bahwa semuanya sudah diraih. Jadi, tak penting lagi untuk belajar tentang itu dan ini. Padahal, hari gini, bahkan banyak Direktur yang diberhentikan. Jika anda mengikuti perkembangan krisis global yang tengah terjadi saat ini, anda akan percaya kepada apa yang saya katakan ini. Berapa banyak sudah CEO yang dipecat? Berapa ribu Direktur yang sudah diretur? Ditambah dengan puluhan ribu Manager. Dan ratusan ribu karyawan ditingkat lainnya. Bahkan, dalam World Economic Forum bulan lalu terungkap bahwa tahun di 2009 ini diperkirakan akan terjadi PHK terhadap sekitar 50,000,000 (lima puluh juta) pekerja. Sedangkan Indonesia diperkirakan akan kebagian ’jatah’ sekitar 650,000 orang yang bakal kehilangan pekerjaan.
Artinya apa? Artinya, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk berhenti bertumbuh. ’Sekalipun saat ini saya telah menduduki jabatan yang tinggi?’ Ya. Sekalipun saat ini Anda telah menduduki jabatan yang tinggi. Karena, kalau Anda berhenti bertumbuh; tidak ada jaminan bahwa anda akan dipertahankan. Jadi, tidak ada pilihan lain; apakah kita sudah berhasil menapaki jenjang karir yang tinggi atau baru saja memulai, kita mesti terus tumbuh dan meningkatkan diri.
Bagaimana seandainya sekalipun saya sudah belajar terus tapi ternyata kena PHK juga? Mengapa mesti pusing dengan itu? Justru Anda beruntung, karena sebelum PHK terjadi, anda sudah belajar tentang banyak hal. Sehingga, anda memiliki begitu banyak kemampuan yang dapat diandalkan. Oleh karena itu, sekalipun hal yang tidak diharapkan itu terjadi juga pada anda; anda masih bisa mengandalkan kemampuan diri. Ketika orang lain pusing gara-gara kena PHK. Tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah itu. Bingung, frustrasi, dan sedih; Anda sebaliknya. Tenang saja, karena ada banyak hal yang bisa anda lakukan dari hasil mengembangkan diri selama ini. Sebab, proses belajar yang tiada henti akan membantu anda menjalani hidup ini. Meskipun roda kehidupan kita tengah berada dibagian paling bawah proses perputarannya. Toh nanti juga akan kembali beranjak naik….
Catatan Kaki:
Tantangan hidup tidak mungkin semakin berkurang. Satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah; selalu meningkatkan diri.